wvsOdYmDaT9SQhoksZrPLG0gYqduIOCNl12L9d9t
Bookmark

Langkah-langkah dalam Mempersiapkan Khotbah

Langkah-langkah dalam Mempersiapkan Khotbah
Dasar dan Acuan Khotbah/ Berkhotbah dan Memahami/ Pengenalan Konteks dan Kasualistik

Langkah-langkah Mempersiapkan Khotbah
Langkah-langkah Mempersiapkan Khotbah
Pendahuluan
Homiletika adalah pemberitaan akan Firman Tuhan dan yang menjadi pusat pemberitaan itu adalah Kristus. Banyak pengertian yang bisa kita jabarkan namun pada pembahasan ini kita akan berfokus pada Homiletika itu sebagai pemberitaan akan Firman Tuhan yang berfokus pada Yesus Kristus.
Sebagai pengkhotbah hal itu harus selalu dipegang dan dipedomani. Agar dapat memegang prinsip itu agar benar-benar dapat memberitakan Firman Tuhan, maka si pengkhotbah perlu mengetahui apa yang menjadi dasar dan acuan khotbah/ berkhotbah juga harus dipahami/ mengenal konteks dan kasualitas dari khotbah itu. Dengan demikian pelaksanaan khotbah akan bertumpu pada pemberitaan akan Kristus dan Firman Allah. Hal itulah yang ingin dalam tulisan ini, agar kita semua dapat memahaminya dengan baik.

Pembahasan
1.      Dasar dan Acuan Khotbah/ Berkhotbah
Di dalam Khotbah manusia berkata tentang Allah. Hal ini hanya mungkin terjadi sebab Allah lah yang telah menyatakan diri-Nya kepada manusia.[1] Hal ini nyata dalam pribadi Yesus Kristus (lih. Yoh. 1:1 dan 14). Yesus turun ke dunia ini sebagai wujud daripada kasih sayang Allah kepada manusia. Allah bukan lagi jauh, tetapi sudah dekat dan Allah tinggal bersama sama dengan manusia. Kehadiran Yesus Kristus di dunia ini adalah sebagai kabar keselamatan dan menjadi kabar baik bagi siapa saja atau biasa kita sebut sebagai Injil. Injil adalah perbuatan Allah yang menyelamatkan. Kisah tentang Allah yang menyelamatkan itu terutama kita lihat dalam kitab Injil (Matius, Markus, Lukas dan Yohanes) dalam Alkitab. Hal yang menyangkut tentang kehidupan Kristus, kematiannya dan kebangkitannya. Penyataan Allah melalui Yesus Kristus adalah penyataan yang paling sempurna (Ibr. 1:1-3; Mat. 13:16-17; Yoh. 12:44-45; Kol. 1:15, 19; 2:9). Oleh karena itu penyataan Allah inilah yang harus menjadi sumber utama bagi pemberitaan tentang Allah. Fokus utamanya adalah tentang kematian dan kebangkitan-Nya, karena olehNnya lah manusia diperdamaikan kembali dengan Allah.[2]
Di atas dipaparkan bahwa pemberitaan tentang Yesus Kristus adalah kabar kesukaan (Injil). Kata ini berarti 'kabar tentang peristiwa-peristiwa yang menggembirakan' atau 'kabar sukacita'.[3] Berdasarkan hal tersebut maka seharusnya tiap-tiap khotbah menimbulkan kesukaan bagi para pendengarnya. Firman Allah membuka dosa manusia, tetapi bukan itu saja Firman Allah juga memberitakan jalan keselamatan oleh Yesus Kristus. Sebenarnya manusia akan mengalami putus asa karena dosa-dosanya,  tetapi karena Allah melalui Yesus Kristus menebus dosa manusia, membawa sukacita bagi manusia. Khotbah bukan saja membuka kesalahan manusia, tetapi juga memberitakan kabar kesukaan. Kitab Suci memberikan kesaksian tentang Yesus Kristus. Maka Alkitab haruslah menjadi dasar dari khotbah.[4] Sebabnya ialah bahwa berkhotbah itu adalah memberitakan atau berkata tentang Allah dan kesaksian tentang itu terdapat dalam Alkitab.[5]
1.1.            Panggilan Tuhan
Panggilan Tuhan
Panggilan Tuhan

Perjanjian Baru banyak berbicara mengenai panggilan, ada tiga istilah yang lazim digunakan untuk menyebutkan panggilan, yaitu presbuteros "penatua", episkopos "penilik jemaat" dan poimen "gembala, pastor". Ketiga kata ini bermuara pada arti "orang yang memimpin jemaat".[6] Ketiganya menyatu dalam I Pet. 5:1-3.
"Aku menasihatkan para penatua (presbuteros) di antara kamu, aku sebagai teman penatua dan saksi penderitaan Kristus, yang juga akan mendapat bagian dalam kemuliaan yang akan dinyatakan kelak. Gembalakanlah (poimen) kawanan domba Allah yang ada padamu, (sebagai pengawas (episkopos)), jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri. Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu."

Pemimpin jemaat memiliki tanggung jawab untuk memimpin jemaat. Rasul Paulus dalam suratnya kepada Timotius, ia mengatakan bahwa orang yang menghendaki jabatan penilik jemaat adalah orang yang menginginkan pekerjaan yang Indah (I Tim. 3:1-7). Seseorang memasuki dunia pelayanan tidak saja hanya dengan alasan tertentu atau sebab lain, tetapi juga karena desakan dari Roh Kudus. Apabila Tuhan mendorong seseorang, dan orang tersebut sangat ingin melakukan pekerjaan tersebut maka ia melakukan pekerjaan yang indah. Setiap pengkhotbah harus yakin akan panggilannya, keyakinan diri yang membuatnya bersedia dan mampu memikul resiko dan bekerja keras. Setiap pengkhotbah harus meyakini bahwa ia berbicara dan berkhotbah dengan penuh kekaguman, bahwa Tuhan sendirilah yang sedang berkhotbah melalui pengkhotbah.[7]
Pengkhotbah merupakan suatu karisma atau pemberian dari Allah. Berkhotbah adalah suatu panggilan dari Allah dan khotbah itu merupakan suatu kesaksian dari pengkhotbah (Mzm. 50:15-17). Berkhotbah bukanlah memaparkan teori-teori keilmuan, melainkan kesaksian iman dari si pengkhotbah sendiri, yaitu keyakinan akan penyataan Allah.[8]

1.2.            Firman Tuhan
Firman Tuhan
Firman Tuhan

Yakin akan Firman Tuhan merupakan bagian terpenting dalam acara penyampaian khotbah. Metrik F. Unger mengatakan bahwa "Apabila Alkitab hanya sebagai kitab yang memuat Firman Tuhan, tentu saja perasaan wajib mempelajari teksnya dengan seksama akan menurun, ataupun sistematika teologinya, atau menyampaikan pesannya dengan penuh wibawa. Pengkhotbah yang efektif harus meyakini bahwa Alkitab itu diilhami oleh Tuhan. Karena itulah Alkitab harus dipandang sebagai otoritas yang tinggi. Pengkhotbah yang efektif akan yakin benar akan kelebihan Alkitab. Jika tidak khotbah itu tidak akan dapat mengubah orang yang mendengarnya.[9]

2.      Memahami/ Pengenalan Konteks dan Kasualistik
2.1.            Pengenalan Konteks
Kita semua mengetahui bahwa Alkitab yang kita pegang sekarang ini punya sejarah dan cerita tentang asal-usulnya, sehingga kitab itu ada dan dituliskan. Pada dasarnya  pernyataan dan firman Allah—sebagaiman disaksikan dalam nas-nas Alkitab—harus dihubungkan dengan masa, tempat dan peristiwa-peristiwa yang tertentu. Jika dibacakan sebagai nas-nas Alkitab saja, mungkin si pendengar akan berkata itulah firman Tuhan kepada Abraham, kepada Musa, kepada bangsa Israel saja, itulah nasihat rasul melulu kepada orang Korintus, bukan kepada saya, jadi tidak berlaku untuk saya sendiri.[10] Hal ini akan mengakibatkan pemahaman kepada firman Tuhan secara dangkal. Oleh sebab itu pengkotbah perlu memahami kontekstualisasi daripada nas-nas yang akan dikhotbahkan.
Berkhotbah adalah peran yang penting dalam kehidupan bergereja. Hal ini sudah sejak jauh dalam zaman Alkitab, sejak zaman para nabi dan hingga kita para murid (rasul), masa gereja awal dan pada abad-abad selanjutnya. Pada zaman sekarang pertumbuhan gereja tidak lepas dari hubungan erat dengan gembala sidangnya (pengkhotbah). Khotbah dan kehidupan gembala sidang menjadi teladan dan dorongan yang dinamis bagi anggota jemaatnya.[11] Hal ini akan memengaruhi perkembangan bertambahnya atau berkurangnya pengunjung gereja. Karena itu pengkhotbah memiliki peranan yang penting sekali.
Pengkhotbah haruslah memberitakan teks Alkitab atau Firman Tuhan itu sebagaimana adanya. Sebagaimana kita ketahui bahwa Alkitab dituliskan dalam konteks dan latar belakang masing-masing, karena itu bisa jadi apa yang dituliskan di dalam Alkitab di zaman yang sudah sangat lama tidak ada kaitannya sama sekali. Apalagi Alkitab memiliki banyak kiasan, perumpamaan, puisi dan lain-lain. Karena itulah ayat-ayat di dalam Alkitab tidak dapat diketahui dengan ilmu pengetahuan semata-mata. Harus ditimbang-timbang dan disertai dengan iman yang kuat. Setiap bagian harus diselidiki dengan teliti, diuraikan dan disesuaikan dengan Injil.[12] Sebagaimana halnya "arti asli dari ayat" merupakan rekonstruksi historis yang dilaksanakan dengan prinsip-prinsip metode penelitian sejarah, demikian pula "makna ayat itu masa kini" merupakan penafsiran teologis. Penafsiran teologis adalah penerjemahan ayat yang telah direkonstruksikan secara historis ke dalam situasi dunia modern.[13]

2.2.            Kasualistik
1.      Pendengar Khotbah
Pendengar khotbah adalah teks kedua bagi si pengkhotbah yang harus diteliti dengan saksama. Pengkhotbah sendiri merupakan pendengar pertama yang disapa oleh firman Allah yang diberitakan tersebut. Pendengar sebagai teks kedua ini pun harus diteliti secara saksama. Artinya siapa pendengar haruslah dipahami oleh pengkhotbah. Pendengar pertama yang bertemu dengan nas khotbah itu adalah si pengkhotbah sendiri. Pengkhotbah dengan sendirinya mewakili jemaat dalam mendengar implikasi atau pengenaan nas yang nantinya akan didengar oleh jemaat. Sebagai wakil jemaat, nas berbicara kepada si pengkhotbah melalui pertanyaan-pertanyaan tentang nas itu, karena ia lebih luas pemahaman ikhwalnya terhadap nas dan lebih besar tanggung jawab rohaninya. Si pengkhotbah diharapkan dapat membantu warga gereja untuk mengerti situasí pergumulan rohaninya. Pengkhotbah harus mengetahui pergumulan anggota jemaatnya.[14] Sehingga dapat dikontekstualisaksikan penyampaian suatu khotbah. Misalnya saat seorang pengkhotbah ingin berkhotbah di hadapan anak SMA atau SMP maka ia tentu harus menyesuaikan diri dari segi bahasa misalnya. Berbeda saat ia mengkhotbahkan Firman Tuhan kepada tingkat lanjut usia. Karena dari segi psikologis sudah berbeda, maka seorang pengkhotbah harus paham betul keadaan jemaatnya.

2.      Masalah yang Dihadapi
Si pengkhotbah harus "turun" ke dalam pemahaman warga jemaat. Ia harus turut dalam suasana kehidupan para pendengarnya. Karena itu, istilah-istilah asing yang belum dikenal pendengar perlu dijelaskan secara sederhana Pengkhotbah sebagai gembala harus lebih mengenal domba-dombanya. Semuanya perlu disapa, bukan hanya lapisan sebagai penggembalaan, dalam pengertian modern tidak hanya berarti pemeliharaan jiwa-jiwa, tetapi dengan siapa diri pendengar dan kita hormati sebagai pribadi, sebagai mana ia di hadapan Tuhan.[15]

Kesimpulan
Pemahaman kita akan sesuatu akan membuat kita melakukan sesuatu berdasarkan apa yang kita pahami. Pula demikian dengan hal langkah mempersiapkan khotbah. Sebelum melakukan khotbah, si pengkhotbah harus memahami apa itu khotbah dan berkhotbah. Khotbah harus dipahami sebagai sebuah metode yang mempercakapkan Allah atau membicarakan tentang Allah dan firmannya. Hal ini akan memgarahkan pengkhotbah untuk selalu membicarakan Allah dalam khotbahnya. Allah dan FirmanNya bisa kita lihat dalam Alkitab kita yang ada sekarang ini. Kita akan menemukan bagaimana Allah berfirman sesuai dengan yang tertulis dalam Alkitab. Karena itu jika kita ingin mengkhotbahkan atau memberitakan tentang Allah, haruslah berdasarkan kepada Alkitab.
Alkitab dituliskan dengan berbagai latar belakang dan dituliskan dalam zaman dan waktu yang berbeda. Sangat berbeda jauh sekali dari zaman ini. Pada saat kitab itu dituliskan ia punya cerita tersendiri, karena itulah diperlukan penafsiran dan penganalisisan terhadap ayat-ayat Alkitab yang akan dikhotbahkan sehingga dapat dikonstektualisan kepada zaman modern sekarang dan tidak lari dari arti yang sebenarnya.
Kedua hal di atas harus dipegang teguh oleh para pengkhotbah agar dalam khotbahnya benar-benar memberitakan tentang Allah dan pemberitaan itu berlandaskan Alkitab.


Catatan Tambahan Penjelasan Dosen oleh Pardomuan Munthe, M. Th
Andai kata kita disuruh atau diminta untuk menyampaikan khotbah, maka pertanyaannya adalah apa langkah-langkah yang harus dipersiapkan? Ada enam langkah yang harus dipersiapkan, namun pada tulisan ini akan disampaikan dua langkah saja seperti judul di atas.
1.      Dasar dan Acuan Khotbah
  • Dasar Khotbah

Langkah yang pertama adalah dasar dan acuan khotbah. Yang pertama ini maksudnya adalah soal kesadaran. Kesadaran tentang siapa pribad pengkotbah, dalam Ibrani 1:1-2 dikatakan di sana “Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya ....”, itu berarti bahwa sesungguhnya apabila Yesus ada di sini (dunia), maka Dialah yang seharusnya hadir untuk berkotbah, tetapi berhubung karena Yesus tidak ada lagi di sini, maka kita dipercayakan sebagai alat-Nya untuk berkotbah atau untuk membicarakan apa yang ingin dibicarakan oleh Allah. Ingat Ibrani 1:1 “... Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara ...”, jadi karena Dia tidak di sini maka kita yang harus naik ke mimbar untuk membicarakan apa yang ingin dibicarakan oleh Allah kepada manusia. Itu kesadaran pertama yang harus dialami oleh seorang pengkhotbah.
Sebelum naik ke mimbar, kadang kala doa saya seperti ini, “Andai Kau ada di sini Yesus, saya tidak perlu naik ke mimbar, Kau yang harus naik ke mimbar. Tetapi karena Kau tidak di sini, maka saya harus naik menggantikan Kau untuk membicarakan apa yang ingin Bapa-Mu bicarakan di sini”.[16]
Kesadaran itu yang harus dimiliki, sehingga naik ke mimbar itu bukan tugas yang mudah. Itu tugas yang sangat berat. Sangat berat sekali. Karena harus membicarakan apa yang ingin Tuhan bicarakan, sementara Dia tidak berbisik pada kita, mana kala kita ingin berkhotbah. Semalam Dia tidak ada berbisik kepada kita atau bahkan selama-lamanya Dia tidak pernah berbisik menyampaikannya. Dia tidak berbisik apa-apa, tapi kita harus membicarakan apa yang hendak dibicarakanNya. Kesadaran itu yang harus mula-mula dipahami. Itulah yang dimaksud dengan dasar khotbah. Kesadaran akan siapa yang berkhotbah.
  • Acuan Khotbah

Kedua, hal yang perlu dipahami adalah acuan khotbah. Berhubungan dengan Ibrani 1:1-2, yang akan disampaikan adalah apa yang ingin dibicarakan oleh Allah. Itu berarti yang mau disampaikan adalah percakapan tentang isi hati Allah, mempercakapkan isi hati Tuhan—yang sejak awal sudah disimpulkan bahwa isi hati-Nya adalah Yesus Kristus, firman Allah yang hidup yang menjadi daging, yang diam dan yang berbicara kepada kita. Dari mana kita ketahui tentang isi hati Tuhan itu? Dari mana kita ketahui isi pembicaraannya itu? Kita harus ingat prinsip Pietisme, bahwa sumber rohani manusia, bukan pesan pengkotbah, tetapi sumber rohani manusia adalah Alkitab. Alkitab adalah satu-satunya dokumen yang mempersaksikan tentang Yesus Kristus—firman Allah yang hidup. Di mata kuliah Dogmatika II akan dipelajari lebih mendalam tentang hal itu, soal pekerjaan Roh Kudus dan di Dogmatika I, sudah dikatakan tentang Alkitab, bahwa Alkitab itu adalah karya Roh Kudus. Roh Kudus yang mendorong orang-orang tertentu untuk menuliskan Alkitab. Jadi, siapapun yang digunakan-Nya—untuk menuliskan Alkitab, intinya Alkitab itu adalah hasil kerja dari Roh Kudus. Tugas Roh Kudus, kita sudah tahu, bahwa Dia tidak berbicara tentang diri-Nya sendiri atau tentang orang lain, Dia hanya berbicara tentang Yesus Kristus, bukan Allah tetapi Yesus Kristus. Harus dibedakan hal itu, kalau berbicara tentang Allah, ketiganya (Trinitas) itu termasuk di dalamnya. Tetapi kalau ingin berbicara tentang oknum tertentu, sebutkanlah oknum tertentu itu. Kalau berbicara tentang manusia, maka semua manusia masuk di dalamnya. Tetapi kalau berbicara “saya”, sebutlah “saya”. Apabila saya ingin berbicara tentang anda, maka saya akan menyebut anda. Jangan identikkan Allah dengan Yesus Kristus, tetapi Yesus Kristus itu adalah Allah. Jadi Roh Kudus itu tugasnya adalah untuk membicarakan tentang Yesus Kristus. Oleh karena itu hasil karya Roh Kudus itu, yaitu Alkitab adalah untuk mempersaksikan tentang Yesus Kristus. Itulah sebabnya, acuan satu-satunya untuk berkhotbah adalah Alkitab.

2.      Memahami dan Mengenal Konteks dan Kasualistik
Langkah yang kedua dalam mempersiapkan khotbah adalah bukan memilih nas, tetapi langkah yang kedua adalah memahami dan mengenal konteks dan kasualistik. Kenapa dua? Karena ada dua tempat untuk berkhotbah, yaitu:
a) Tempat berkotbah adalah sesuai dengan yang terjadwal sesuai dengan kalender minggu gerejawi, tahun-tahun gerejawi, tetapi,
b) Selalu ada pelayanan-pelayanan karena kasus-kasus tertentu. Misalnya ada orang mati, orang sakit, menikah, memasuki rumah, dll. Itu kasus-kasus tertentu yang secara tradisional harus dilandasi dengan peribadatan, itulah namanya kasual.
Apa yang harus dipahami dari konteks ini? Apa-apa saja yang perlu kita ketahui dari konteks-konteks ini?

2.1.Konteks dalam Ibadah Rutin Sesuai dengan Kalender Gerejawi
a)      Soal waktu dan tempat, kapan dan di mana?
Jikalau dipanggil untuk berkotbah, maka waktu dan tempat harus jelas. Harus jelas diketahui, jangan asal diterima, benar-benar disesuaikan dengan jadwal. Lalu waktunya kapan? Mana tahu ada pelayanan pada satu hari itu. Harus dihitung jarak tempuh, apakah tercapai atau tidak? Karena pendeta tidak bisa terlambat, itu syaratnya. Kenapa tidak boleh terlambat, karena terlambat adalah dosa yang paling tidak bisa diampuni. Ingat tentang sepuluh orang gadis, gadis-gadis yang bijaksana dan gadis-gadis yang bodoh (Matius 25:1-13) lima orang yang bijaksana dan lima orang yang bodoh. Kenapa bodoh? Karena persiapannya sudah begitu panjang, tetapi waktu acara dimulai mereka terlambat. Akhirnya tidak diizinka masuk, padahal sama-sama persiapan. Padahal mereka telah capek, sudah lama persiapan, tetapi pada akhirnya tidak boleh masuk. Persoalannya adalah waktu masuk mereka terlambat. Jadi itu namanya bodoh. Sudah lama sekali dia mempersiapkan khotbahnya, tetapi pas acara mereka terlambat. Padahal acara sudah dimulai. Kan itu namanya bodoh. Ini syarat yang pertama. Pendeta tidak boleh beralasan, kalau sudah dijadwalkan, apapun yang terjadi, walaupun misalnya gempa bumi satu hari itu tetap harus melaksanakan tugas.

b)      Siapa pendengarnya
Hal ini adalah hal yang sangat penting. Apa yang perlu diketahui dari hal ini? Tentang siapa pendengarnya, yang perlu diketahui adalah tentang tingkat pemikirannya. Dalam hal ini yang perlu kita ketahui yang pertama adalah pendidikannya. Lalu yang kedua adalah pekerjaan atau profesinya. Hal ini yang terutama yang perlu diketahui. Begitu dihubungi untuk berkotbah harus langsung ditanyakan, apa pendidikannya, profesinya (secara umum) apa? Hal ini perlu diketahui supaya pengkotbah bisa mengkontekstualisasikan nas khotbah dengan jemaat. Jangan nanti dipersiapkan khotbah sehebat-hebatnya, termasuk dengan memasukkan istilah-istilah ke dalamnya, menggunakan bahasa Teologia yang hebat-hebat, apalagi misalnya sampai memasukkan bahasa Ibrani. Padahal, tiba-tiba saat kita sampai di tempat, ingin berkhotbah, rupanya jemaatnya mayoritas tukang sayur. Begitu dikatakan istilah providensia mereka akan bingung dan bertanya-tanya, apa gerangan providensia itu? Usahakanlah, misalnya kalau pendengar kita pendidikannya SMA, maka bahasa kita sebisa mungkin harus mengunakan bahasa sederhana, seperti bahasa (kosa kata) anak SD dan paling tinggi bahasa SMP. Jangan karena kita sarjana lalu menggunakan cara dan bahasa sarjana. Coba misalnya kalau orang berbicara kepada kita dengan bahasa sarjana, pasti kita merasa tidak masuk akal atau susah untuk menangkapnya. Sedangkan bahasa SMA pun sudah megap-megap, tetapi coba kalau misalnya menggunakan bahasa yang digunakan oleh SMP atau SMA kelas X, kalau itu baru cocok dan masuk dan gampang dimengerti oleh orang yang mendengar. Bayangkan saja, jika dikonsep khotbah dengan bahasa sarjana, sementara yang mendengar kebanyakan atau pada umumnya adalah tukang sayur. Pasti ada rasa kecewa yang dimiliki oleh pengkhotbah. Ia merasa bahwa sudah sangat capek mempersiapkannya siang dan malam, tetapi yang mendengar adalah tukang sayur yang tidak sesuai dengan bahan khotbah yang sudah disusun. Karena itu bukan nasnya yang duluan di olah-olah, tetapi menanyakan profesi dan pendidikan pada kebanyakan jemaat di mana kita akan berkotbah. Misalnya berapa persen di sana yang berprofesi Pegawai Negeri Sipil (PNS), petani dan pedagang. Kalau PNSnya hanya dua orang, sementara pedagang ada lebih dari seratus orang dan yang berladang ada lima puluh orang. Jangan sampai mengorbankan seratus orang dan lima puluh orang tersebut hanya gara-gara PNS yang hanya dua orang. Hal ini sangatlah penting untuk diperhatikan.

c)      Apa masalahnya?
Tentu ada masalah yang dihadapi oleh para pendengar (jemaat). Masalah yang dimaksudkan adalah bukan masalah pribadi, tetapi masalah dari konteks pendengar di daerah itu secara keseluruhan atau secara umum. Perlu ditanyakan apakah ada masalah atau pergumulan yang dihadapi. Siapa tahu misalnya daerah yang akan dituju untuk berkhotbah sedang dilanda oleh hama wereng bagi yang mayoritas petani atau virus penyakit yang membuat mereka takut tentu ada solusi yang harus dan akan kita sampaikan atau harapan. Hal-hal ini harus dicatat baik-baik. Jadi di khotbah nanti sudah ada tujuannya, sesuai dengan masalah yang mereka hadapi tentunya. Jadi benarlah dalam hal ini dipakai dua tujuan khotbah yang disampaikan oleh Marthin Luther, yaitu pertama memberikan pengajaran Teologi dan memang perlu sekali untuk menyampaikan itu, lalu yang kedua ada tujuan untuk memberikan penghiburan.

d)      Apa solusi yang akan disampaikan atau apa harapan kedepan yang akan disampaikan?
Kalau ada masalah tentu ada harapan ke depan. Lihat bagian atas (c).

2.2.Konteks dalam Ibadah Kasualistik
Kalau misalnya ada kasus kasualistik, maka sama dengan hal-hal yang di atas yang telah dijelaskan (konteks) perlu juga untuk diperhatikan dalam menyampaikan khotbah. Tetapi harus di samping hal-hal yang disampaikan, karena kasualistik atau ada kasus-kasus tertentu yang harus dihadapi, yaitu siapa yang dilayani, kemudian apa kasusnya, lalu apa jenis pelayanannya. Harus juga diperhatikan apakah ada pergumulan khusus yang dialami.
Sebagai satu contoh misalnya orang yang menikah. Setiap pernikahan memiliki bimbingan pranikah. Saat bimbingan pranikah itulah ditanyakan. Misalnya siapa-siapa saja nanti yang akan datang pada pernikahan itu, apakah bapak datang, keluarga yang datang siapa saja, dari mana saja. Tanyakan hal-hal itu. Perlu juga ditanyakan Apakah ada pergumulan-pergumulan khusus. Maksudnya pergumulan khusus yang sedang dihadapi oleh keluarga atau orang yang akan menikah. Tetapi perlu diingat bahwa yang ditanyakan adalah yang berhubungan dengan pernikahan mereka yang bersangkutan. Ditanyakan juga apa harapan mereka ke depan. Jika sudah mendapatkan hal-hal itu, maka itulah nanti yang menjadi tujuan khotbah yang akan disampaikan. Sampaikan dulu pengajaran dan dasar Teologi dari pernikahan, lalu sampaikanlah apa yang menjadi tujuan dan harapan ke depannya.

Daftar Pustaka
Browning, W. R. F., Kamus Alkitab: A Dictionary of the Bible. Panduan Dasar ke dalam Kitab-kitab, Tema, Tempat, Tokoh dan Istilah Alkitabiah, diterjemahkan oleh Liem Khiem Yang, Jakarta: Gunung Mulia, 2009.
Evans, Williams, Cara Mempersiapkan Khotbah, Jakarta: Gunung Mulia, 1999.
Gintings, E. P., Khotbah dan Pengkhotbah: Sebuah Pengantar Homiletika Masa Kini, Jakarta: Gunung Mulia, 1998.
Hasel, Gerhard F., Teologi Perjanjian Lama: Masalah-masalah Pokok dalam Perdebatan Saat ini, Malang: Gandum Mas, t. t.
Röthlisberger, H., Homiletika: Ilmu Berkhotbah, Jakarta: Gunung Mulia, 2016.
Sutanto, Hasan, Homiletik: Prinsip dan Metode Berkhotbah, Jakarta: Gunung Mulia, 2004.
Vines, Jerry dan Shaddix, Jim, Homiletika: Kuasa dalam Berkhotbah. Persiapan dan penyampaian Khotbah, Malang: Gandum Mas, 2002.


[1] H. Röthlisberger, Homiletika: Ilmu Berkhotbah, (Jakarta: Gunung Mulia, 2016), 12.
[2] H. Röthlisberger, Homiletika, 12.
[3] W. R. F. Browning, Kamus Alkitab: A Dictionary of the Bible. Panduan Dasar ke dalam Kitab-kitab, Tema, Tempat, Tokoh dan Istilah Alkitabiah, diterjemahkan oleh Liem Khiem Yang, (Jakarta: Gunung Mulia, 2009), 152.
[4] H. Röthlisberger, Homiletika, 13-14.
[5] Ibid, 36.
[6] Jerry Vines dan Jim Shaddix, Homiletik: Kuasa dalam Berkhotbah, Persiapan dan penyampaian Khotbah, (Malang: Gandum Mas, 2002), 62.
[7] Ibid, 62-63.
[8] E. P. Gintings, Khotbah dan Pengkhotbah: Sebuah Pengantar Homiletika Masa Kini, (Jakarta: Gunung Mulia, 1998), 68-69.
[9] Jerry Vines dan Jim Shaddix, Homiletika, 66-77.
[10] H. Röthlisberger, Homiletika, 14.
[11] Hasan Sutanto, Homiletik: Prinsip dan Metode Berkhotbah, (Jakarta: Gunung Mulia, 2004), 36-37.
[12] Williams Evans, Cara Mempersiapkan Khotbah, (Jakarta: Gunung Mulia, 1999), 31.
[13] Gerhard F. Hasel, Teologi Perjanjian Lama: Masalah-masalah Pokok dalam Perdebatan Saat ini, (Malang: Gandum Mas, t. t.), 39.
[14] E. P. Gintings, Khotbah, 46.
[15] Ibid, 47-48.
[16] Pernyataan dari bapak Pardomuan Munthe, M. Th.
Posting Komentar

Posting Komentar