Bahan Khotbah
Ibadah GMKI FT UNIMED
Sabtu, 5 Juni 2021
Pelayanan yang Berkemenangan
(I Tesalonika 3:12-13)
Nas
3:12 Dan kiranya Tuhan menjadikan kamu bertambah-tambah dan berkelimpahan dalam kasih seorang terhadap yang lain dan terhadap semua orang, sama seperti kami juga mengasihi kamu.
3:13 Kiranya Dia menguatkan hatimu, supaya tak bercacat dan kudus, di hadapan Allah dan Bapa kita pada waktu kedatangan Yesus, Tuhan kita, dengan semua orang kudus-Nya.
Pendahuluan
1. Apakah menjadi song leader dalam ibadah di gereja adalah pelayanan?
2. Apakah menjadi guru Sekolah Minggu adalah pelayanan?
Sebenarnya bukan hal yang asing lagi bagi kita mendengar pelayanan. Sudah sering kita mendengarnya, bahkan karena seringnya, kadang maknanya jadi kabur. Kalau kita mau jujur siapa sih yang senang kalau harus melayani orang lain? Coba misalnya ada yang meminta sesuatu kepada kita, dalam praktiknya ‘enak aja nyuruh-nyuruh, memangnya aku pembantu?’ Pada dasarnya tidak ada orang yang senang melayani orang lain.
Namun sekarang pelayanan itu sudah sangat sering kita dengar. Bahkan kita juga sering salah memahaminya. Kita sering berpikir bahwa ketika kita melakukan aktivitas di gereja, kita berpikir itu adalah pelayanan. Apa makna melayani yang sebenarnya?
Untuk menjawab hal ini bisa kita baca lebih lanjut tulisan Pdt. Andar Ismail dalam buku Selamat Melayani Tuhan. Namun pada umumnya ada empat macam kata yang digunakan dalam bahasa aslinya, yaitu diakoneo, douleo, leitourgeo dan latreuo. Pelbagai kata ini digunakan oleh gereja dengan arti melayani, mengabdi atau menghamba kepada Tuhan dan kepada orang lain, atau pola hidup yang bukan lagi hidup untuk diri sendiri, melainkan hidup untuk orang lain. Dalam hal ini muncul pertanyaan penting. Lah, mengapa kita harus melayani orang lain? Dasarnya adalah karena Yesus sendiri sudah melayani kita. Seluruh hidup Yesus selama +/- 33 tahun ditandai oleh jiwa yang melayani. Tujuan hidupnya adalah memberikan pelayanan, melayani dan menghamba. Maka harus begitu juga lah jiwa kristiani kita para pengikut-Nya. Jadi setiap orang yang mengaku diri sebagai pengikut Kristus, wajib melayani dalam bidang apapun.
Bagaimanakah pelayanan kita bisa jadi pelayanan yang berkemenangan? Sebab dalam kenyataannya pelayanan itu dalam pelaksanaannya tidaklah mudah. Melayani itu mengandung banyak segi dan risiko. Sebab banyak hal yang harus dilihat, pelayanan bukan sekadar sibuk di sana-sini, bukan pula soal memberi, akan tetapi dengan melayani, kita mengosongkan diri kita dan menempatkan kepentingan sendiri di bawah kepentingan Tuhan dan kepentingan orang lain. Sangat bertolak belakang dengan jalan hidup umumnya yang justru mengutamakan kepentingan diri sendiri. Jadi pelayanan itu tidak mudah, nah bagaimana agar pelayanan itu menjadi pelayanan yang berkemenangan? Kita akan belajar dari nas 1 Tesalonika 3:12-13.
Pembahasan
Tesalonika adalah ibukota Makedonia, sebuah provinsi kerajaan Roma. Jemaat di Tesalonika didirikan oleh Paulus setelah ia meninggalkan Filipi. Tetapi tidak lama sesudah itu, orang-orang Yahudi yang iri hati kepada Paulus mulai menentang usaha Paulus untuk memberitakan ajaran Kristen kepada orang-orang bukan Yahudi yang telah menunjukkan minat terhadap agama Yahudi. Terpaksalah Paulus meninggalkan Tesalonika dan pergi ke Berea. Setelah ia tiba di Korintus, ia menerima surat dari Timotius, kawan dan rekannya, tentang keadaan jemaat di Tesalonika.
Surat Paulus yang pertama kepada jemaat di Tesalonika ini ditulis untuk memberi dorongan dan keteguhan kepada mereka. Paulus bersyukur atas berita yang diterimanya tentang iman dan kasih mereka. Ia mengingatkan mereka mengenai kehidupannya sendiri ketika ia masih berada di tengah-tengah mereka. Setelah mengemukakan semuanya itu, Paulus menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka tentang kedatangan Kristus yang kedua kalinya. Kalau seorang Kristen meninggal sebelum Kristus datang kembali, dapatkah orang itu menerima hidup yang kekal dan sejati dari Kristus? Kapankah Kristus akan datang? Paulus menasihatkan supaya mereka terus bekerja dengan tenang sambil menantikan kedatangan Kristus dengan penuh harapan. Jadi ada dorongan dari Paulus agar jemaat di sana tetap setia dalam iman mereka dalam hari-hari penantian akan kedatangan Kristus.
Perikop 1 Tesalonika 3:12-13 merupakan bagian dari doa yang dipanjatkan oleh Rasul Paulus secara sungguh-sungguh. Pada saat itu Paulus sedang berada jauh dari jemaat Tesalonika. Tentu banyak tantangan yang dihadapi oleh jemaat yang masih tergolong dini dan mereka membutuhkan pemimpin, pengarah dan dorongan, apalagi di tengah-tengah berbagai pergumulan iman mereka. Jadi satu-satunya cara yang dapat dia lakukan adalah dengan berdoa bagi mereka, bersama dengan surat ini. Paulus ingin sekali agar iman mereka semakin kuat dan disempurnakan.
Paulus menyampaikan doanya kepada Allah dan Kristus (ayat 11). Paulus tidak mengandalkan kebijaksanaannya, namun ia mengandalkan kuasa Allah, karena itu ia menyampaikan doanya kepada Allah dan Kristus. Paulus berdoa bagi rekan sekerjanya, Timotius dan atas nama jemaat Tesalonika. Beberapa hal yang dapat kita pelajari dari doa Paulus ini, antara lain:
Paulus sendiri berdoa agar rekan sekerjanya menempuh jalan dengan selamat dalam pelayanan mereka. Secara manusiawi kita akan berpikir bahwa, kita sendiri yang mengatur jalan-jalan kita, masa iya perjalanan pun harus didoakan kepada Allah? Kita kan bepergian ke mana pun, ke tempat ini dan itu, ya atas kehendak kita sendiri, kekuatan kita sendiri. Namun Paulus menunjukkan bahwa di dalam Dia kita hidup, bergerak dan di dalam Dia kita ada, kita harus bergantung kepada Allah dalam segala tindakan kita, termasuk dalam pelayanan kita. Paulus tahu bahwa Allah Sang Pemelihara mengatur segala kehidupan kita. Ia akan memberkati kita dalam segala perkara ketika kita berserah dalam doa kepada Tuhan. Jadi dalam melayani atau apa pun yang kita kerjakan, hendaklah kita bersandar kepada Tuhan.
3:12 Dan kiranya Tuhan menjadikan kamu bertambah-tambah dan berkelimpahan dalam kasih seorang terhadap yang lain dan terhadap semua orang, sama seperti kami juga mengasihi kamu.
Paulus berdoa kepada rekan sekerjanya dan kepada jemaat di Tesalonika agar ‘bertambah-tambah dan berkelimpahan dalam kasih seorang terhadap yang lain dan terhadap semua orang’ karena ‘sama seperti kami juga mengasihi kamu’. Maka demikian juga lah harus kamu lakukan. Hendaklah kamu saling mengasihi.
Hal yang menarik dari keimanan kita adalah adanya ajakan untuk ‘saling mengasihi’. Harus disadari bahwa dasar dari kasih itu adalah kasih Yesus Kristus. Itulah yang melandasi tindakan pelayanan/ tindakan peduli, sebab kita telah dikasihi, maka hendaklah kita juga mengasihi orang lain. Ketika kita semakin dikasihi, maka kita juga harus semakin penuh dengan kasih.
Hal ini akan membuat kasih itu seperti siklus, ketika kita menebarkan kasih kepada orang lain dan orang lain mengasihi orang lain juga dan begitu seterusnya, jadi betapa indahnya dunia ini, komunitas kita apabila kita saling mengasihi atau dalam bahasa lain, sesuai dengan tema kita hari ini ‘pelayanan’ yang berkemenangan, ketika kita saling mengasihi atau melayani dengan kasih, maka kehidupan kita, dunia kita, komisariat kita, akan terasa begitu indah, sebab kita tidak lagi berpikir untuk menuntut kasih, menuntut dilayani atau bahkan tidak ada lagi yang berbuat jahat kepada orang lain. Maka pelayanan kita akan menjadi pelayanan yang berkemenangan. Memang kita akan bertanya-tanya, ‘Loh, apa hubungannya kasih itu dengan pelayanan yang berkemenangan?’
Karena pada dasarnya kasih itu lah yang menjadi dasar dari pelayanan. Kita tidak mungkin melayani orang lain, apabila kita tidak mengasihinya. Muncul pertanyaan lagi, bagaimana mungkin saya mengasihi orang lain, sementara saya pun tidak mengenalnya. Kasih itu tidak dilandasi oleh pengenalan dan perbuatan orang lain, justru ketika kita mengasihi lah maka kita semakin ingin lebih mengenal, ketika kita mengasihi maka muncul niat dan tindakan untuk mengasihi. Kristus telah mengasihi kita, sehingga kita juga memiliki kasih, atas dasar itulah kita mengasihi orang lain, bukan bergantung kepada pengenalan kita kepada orang lain dan apa yang dilakukan orang lain kepada kita.
Kita harus memegang bahwa kasihlah yang menjadi dasar kita untuk melayani. Jadi ketika tidak ada kasih dalam diri kita, mustahil kita melakukan pelayanan yang berkemenangan.
3:13 Kiranya Dia menguatkan hatimu, supaya tak bercacat dan kudus, di hadapan Allah dan Bapa kita pada waktu kedatangan Yesus, Tuhan kita, dengan semua orang kudus-Nya.
Permintaan terakhir dari Paulus dalam doanya adalah supaya Tuhan menguatkan hati mereka, kenapa? Apabila kita dalami, kitab Tesalonika ini sarat dengan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan persoalan-persoalan apa yang terjadi setelah kita mati? Bagaimana hidup Kristen dan kedatangan Kristus?
Satu hal yang pasti adalah kita hidup di tengah-tengah dunia ini dan kelak akan tiba saatnya Tuhan Yesus datang. Mengenai kapan kedatangan-Nya itu, kita tidak tahu, bahkan Yesus sendiri tidak mengetahuinya, hanya Bapa yang tahu kapan peristiwa itu terjadi (Mat. 24:36). Dalam menanti kedatangan itu apa kah yang dapat kita lakukan?
Selama masih hidup di dunia ini kita hidup sebagai umat-umat Tuhan yang melakukan pekerjaan-pekerjaan pelayanan. Kita hidup dalam dunia yang penuh dengan tantangan, penuh dengan dosa dan Tuhan mengutus kita ke dalam dunia ini agar kita menjadi garam dan terang. Itulah dunia pelayanan kita. Tentu saja itu bukan perkara mudah, banyak sekali tantangan dan godaan yang kita hadapi. Bagaimana agar kita dapat mengerjakan dunia pelayanan kita dengan baik dan setia.
Paulus juga tahu itu bukanlah hal yang mudah, karena itu ia menyampaikan doanya agar Tuhan kiranya menguatkan hati jemaat Tesalonika. Karena semakin kita dikuatkan dan diteguhkan dalam iman, maka semakin dituntut kekudusan dan tidak bercacat dari orang percaya. Karena kita harus bertindak sedemikian rupa supaya iman percaya kita tidak bertentangan dengan perilaku kita. Kita juga harus berusaha agar hidup kita kudus di hadapan Allah dan semangat itu harus dijaga sampai kedatangan Yesus Kristus.
Supaya t'ak bercacat dan kudus, di hadapan Allah dan Bapa kita pada waktu kedatangan Yesus. Pesan menguatkan hati ini menandakan bahwa ada sebuah penantian. Penantian itu adalah penantian yang pasti, bukan penantian yang palsu atau hoax, karenanya harus menjaga agar tidak bercacat dan kudus di hadapan Allah kelak ketika Yesus datang. Kita bisa melihat dari sisi ini.
Namun di sisi lain, ketika kita secara iman meyakini bahwa kita bekerja dalam pelayanan kepada Tuhan dan sesama, maka sebisa mungkin kita harus menghidupi pelayanan itu. Kita harus mampu berbuat seperti apa kata firman Tuhan. Jangan kita mengaku diri melayani Tuhan, namun tidak menghidupinya.
Penutup
1. Pelayanan dilaksanakan dalam penyertaan Allah.
2. Pelayanan dilandasi oleh kasih.
3. Pelayanan harus kuat dan tak bercacat dalam kekudusan.
Dengan tiga prinsip ini harapan kita, pelayanan kita bisa kita lakukan dengan baik, bisa kita jalankan dengan baik dan yang penting menjadi pelayanan yang berkemenangan. Selamat melayani Tuhan.
Posting Komentar